Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar..
[QS. al-Baqarah'/2: 12]

Selasa, November 01, 2016

HASAD (IRI - DENGKI)

Segala puji hanya milik Allah, Rabb semesta raya. Shalawat dan salam semoga senantiasa Allah limpahkan kepada Nabi dan Rasul-Nya Muhammad SAW.

Allah telah menjadikan cinta (persaudaraan) yang ikhlash (tulus hanya karena Allah) di antara kaum muslimin sebagai sebuah ikatan cinta (persaudaraan) yang paling kokoh dari bentuk ikatan-ikatan lainnya, dan Allah akan melindungi model ikatan cinta (persaudaraan) semacam ini di bawah naungan Asry-Nya. Islam pun mengokohkan/menguatkan hal ini dengan mewajibkan kepada setiap muslim untuk menjaga harta, kehormatan, dan jiwa saudararanya (sesama muslim) dengan semestinya, sehingga dapat terhindar dari marabahaya ataupun hal-hal yang buruk lainnya.

Namun demikian, terkadang dapat pula terlahir, pada diri seseorang yang jiwanya sedang sakit, rasa iri atau dengki ( الحسد ) ketika saudaranya memperoleh anugerah kenikmatan (kebaikan), maka kemudian ia mempergunjingkannya, mengolok-oloknya dengan kejelekan, atau bahkan berupaya membenturkannya dengan saudaranya yang lain, mengadu-domba keduanya, dengan maksud agar anugerah nikmat/kebaikan tersebut sirna dari tangan saudaranya yang ia iri/dengki kepadanya. Hal semacam ini (timbulnya iri/dengki) pasti dan selalu ada di tengah-tengah kita, di antara suadara-saudara kita.

Oleh karena itu, seharusnya lah kita menjaga diri kita, keluarga kita, dan masyarakat kita agar jangan sampai terjangkit penyakit jiwa semacam ini.

A. PENGERTIAN HASAD ( الحسد )

Istilah HASAD (Arab) atau IRI/DENGKI (Indonesia) berarti:

  • Perasaan tidak suka ketika saudaranya mendapat anugerah kenikmatan dari Allah SWT (dalam definisi ini, maka seseorang akan mengalami keresahan/tidak tenang/risau/gundah ketika saudaranya memperoleh anugerah kenikmatan.
  • Perasaan ingin menghilangkan anugerah kenikmatan dari tangan saudaranya yang telah Allah berikan kepadanya (dalam definisi ini, maka seseorang akan berupaya dengan segala cara untuk menghilangkan anugerah kenikmatan dari saudaranya, atau minimal ia akan bersuka-ria ketika nikmat tersebut hilang dari tangan saudanya, meskipun ia tidak berperan dalam upaya tersebut.
HASAD ( الحسد ) kebalikan dari GHIBTHOH ( ألغبطة ), Ghibthoh berarti:
  • Perasaan suka/senang ketika saudaranya mendapat anugerah kenikmatan dari Allah SWT.
  • Perasaan ingin memperoleh anugerah kenikmatan seperti atau melebihi dari apa yang telah diberikan oleh Allah kepada saudaranya, tanpa dibarengi perasan ingin agar kenikmatan tersebut sirna dari tangan saudaranya.
B. HUKUM HASAD ( الحسد )
Hasad hukumnya haram, diharamkan bagi seorang muslim untuk hasad (iri/dengki) terhadap saudaranya.
Rasulullah SAW bersabda:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : لاَ تَحَاسَدُوا وَلاَ تَنَاجَشُوا وَلاَ تَبَاغَضُوا وَلاَ تَدَابَرُوا وَلاَ يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ وَكُوْنُوا عِبَادَ اللهِ إِخْوَاناً . الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لاَ يَظْلِمُهُ وَلاَ يَخْذُلُهُ وَلاَ يَكْذِبُهُ وَلاَ يَحْقِرُهُ . التَّقْوَى هَهُنَا –وَيُشِيْرُ إِلَى صَدْرِهِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ – بِحَسَبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ، كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ دَمُهُ وَمَالُهُ وَعِرْضُهُ
[رواه مسلم]
Dari Abu Hurairah radhiallahuanhu dia berkata : Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda : Janganlah kalian saling dengki, saling menipu, saling marah dan saling memutuskan hubungan. Dan janganlah kalian menjual sesuatu yang telah dijual kepada orang lain. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lainnya, (dia) tidak menzaliminya dan mengabaikannya, tidak mendustakannya dan tidak menghinanya. Taqwa itu disini (seraya menunjuk dadanya sebanyak tiga kali). Cukuplah seorang muslim dikatakan buruk jika dia menghina saudaranya yang muslim. Setiap muslim atas muslim yang lain; haram darahnya, hartanya, dan kehormatannya. 
(Riwayat Muslim)

Rasulullah SAW juga bersabda:


وعن أنس رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم: (إياكم والحسد فإن الحسد يأكُل الحسنات كما تأكل النار الحطب).
Dari Anas radhiallahuanhu dia berkata : Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda : "Jauhilah oleh kalian sifat hasad, karena sesunggugnya (dosa) sifat hasad akan memakan (menghilangkan pahala) kebaikan, sebagaimana api memakan kayu bakar".
(Riwayat Ibnu Majah, Abu Daud juga meriwayatkan hadits ini dari Abu Hurairah ra)


Adapun GHIBTHOH, dibolehkan dan merupakan hal yang baik bagi seorang muslim untuk memiliki sifat ghibthoh, ia merupakan bentuk motivasi bagi dirinya dengan menyandarkan kebaikan pada diri saudaranya sebagai model kebaikan untuk dirinya. 
C. SEBAB-SEBAB TIMBULNYA SIFAT HASAD ( الحسد )
Di antara hal-hal yang dapat menimbulkan sifat HASAD pada diri seseorang adalah sbb:
  1. Adanya rasa permusuhan dan kebencian dalam diri seseorang kepada saudaranya;
  2. Adanya sifat angkuh dan sombong dalam diri seseorang yang ia tidak suka bila saudaranya dapat mengunggulinya dalam sesuatu hal;
  3. Sifat ingin selalu menjadi orang yang ditokohkan/dituakan, diiringi sifat yang ingin dipuja dan dipuji dengan segala bentuk penghormatan dari sesamanya atas kehormatan yang melekat pada dirinya;
  4. Sifat mencintai dunia/harta kekayaan yang berlebihan;
  5. dan lain-lainyya.
D. BAHAYA SIFAT HASAD ( الحسد )

Hasad memiliki banyak bahaya di antaranya:
  1. Tidak menyukai apa yang Allah takdirkan. Merasa tidak suka dengan nikmat yang telah Allah berikan kepada orang lain pada hakikatnya adalah tidak suka dengan apa yang telah Allah takdirkan dan menentang takdir Allah.
  2. Hasad itu akan melahap kebaikan seseorang sebagaimana api melahap kayu bakar yang kering karena biasanya orang yang hasad itu akan melanggar hak-hak orang yang tidak dia sukai dengan menyebutkan kejelekan-kejelekannya, berupaya agar orang lain membencinya, merendahkan martabatnya dll. Ini semua adalah dosa besar yang bisa melahap habis berbagai kebaikan yang ada.
  3. Kesengsaraan yang ada di dalam hati orang yang hasad. Setiap kali dia saksikan tambahan nikmat yang didapatkan oleh orang lain maka dadanya terasa sesak dan bersusah hati. Akan selalu dia awasi orang yang tidak dia sukai dan setiap kali Allah memberi limpahan nikmat kepada orang lain maka dia berduka dan susah hati.
  4. Memiliki sifat hasad adalah menyerupai karakter orang-orang Yahudi. Karena siapa saja yang memiliki ciri khas orang kafir maka dia menjadi bagian dari mereka dalam ciri khas tersebut. Nabi bersabda, “Barang siapa menyerupai sekelompok orang maka dia bagian dari mereka.” (HR Ahmad dan Abu Daud, shahih)
  5. Seberapa pun besar kadar hasad seseorang, tidak mungkin baginya untuk menghilangkan nikmat yang telah Allah karuniakan. Jika telah disadari bahwa itu adalah suatu yang mustahil mengapa masih ada hasad di dalam hati.
  6. Hasad bertolak belakang dengan iman yang sempurna. Nabi bersabda, “Kalian tidak akan beriman hingga menginginkan untuk saudaranya hal-hal yang dia inginkan untuk dirinya sendiri.” (HR Bukhari dan Muslim). Tuntutan hadits di atas adalah merasa tidak suka dengan hilangnya nikmat Allah yang ada pada saudara sesama muslim. Jika engkau tidak merasa susah dengan hilangnya nikmat Allah dari seseorang maka engkau belum menginginkan untuk saudaramu sebagaimana yang kau inginkan untuk dirimu sendiri dan ini bertolak belakang dengan iman yang sempurna.
  7. Hasad adalah penyebab meninggalkan berdoa meminta karunia Allah. Orang yang hasad selalu memikirkan nikmat yang ada pada orang lain sehingga tidak pernah berdoa meminta karunia Allah padahal Allah ta’ala berfirman: وَلا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللَّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ لِلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبُوا وَلِلنِّسَاءِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبْنَ وَاسْأَلُوا اللَّهَ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا “Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi Para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” (QS. an Nisa’: 32)
  8. Hasad penyebab sikap meremehkan nikmat yang ada. Maksudnya orang yang hasad berpandangan bahwa dirinya tidak diberi nikmat. Orang yang dia dengki-lah yang mendapatkan nikmat yang lebih besar dari pada nikmat yang Allah berikan kepadanya. Pada saat demikian orang tersebut akan meremehkan nikmat yang ada pada dirinya sehingga dia tidak mau menyukuri nikmat tersebut.
  9. Hasad adalah akhlak tercela. Orang yang hasad mengawasi nikmat yang Allah berikan kepada orang-orang di sekelilingnya dan berusaha menjauhkan orang lain dari orang yang tidak sukai tersebut dengan cara merendahkan martabatnya, meremehkan kebaikan yang telah dia lakukan dll.
  10. Ketika hasad timbul umumnya orang yang di dengki itu akan dizalimi sehingga orang yang di dengki itu punya hak di akhirat nanti untuk mengambil kebaikan orang yang dengki kepadanya. Jika kebaikannya sudah habis maka dosa orang yang di dengki akan dikurangi lalu diberikan kepada orang yang dengki. Setelah itu orang yang dengki tersebut akan dicampakkan ke dalam neraka.
Ringkasnya, dengki adalah akhlak yang tercela, meskipun demikian sangat disayangkan hasad ini banyak ditemukan di antara para ulama dan dai serta di antara para pedagang. Orang yang punya profesi yang sama itu umumnya saling dengki. Namun sangat disayangkan di antara para ulama dan para dai itu lebih besar. Padahal sepantasnya dan seharusnya mereka adalah orang-orang yang sangat menjauhi sifat hasad dan manusia yang paling mendekati kesempurnaan dalam masalah akhlak.
E. TERAPI UNTUK SIFAT HASAD ( الحسد )
  1. Kembali kepada Allah dengan senantiasa memperbaharui taubat kepada Allah dari dosa-dosa yang memperdaya kita;
  2. Bertawakkal kepada Allah, menyerahkan segala urusan (baik ataupun buruknya) kepada Allah setelah kita berusaha dan berdoa dengan maksimal;
  3. Berlindung kepada Allah, diiringi dengan bacaan-bacaan (aurad) yang telah disyari'atkan;
  4. Berdoa kepada Allah agar dijaga dari sifat hasad dan dijaga dari orang yang hasad (QS. Al-Falq/113: 5);
  5. Berbuat/bersikap baik dan adil terhadap orang yang hasad, tidak membalasnya dengan keburukan yang sejenis;
  6. Jangan sekali-kali membiacarakan membicarakan kenikmatan yang kita peroleh dihadapan orang-orang yang mudah terjangkit sifat hasad;
  7. dll.
والله أعلم بالصواب

Areefah
Areefah Haurgeulis Updated at:

Mari jadi yang pertama untuk berkomentar di posting ini!

Posting Komentar

 
back to top