-->
Doa Pagi dan Petang (dibaca 3 kali)
اللهم عَافِنِيْ فِيْ بَدَنِيْ اللهم عَافِنِيْ فِيْ سِمْعِيْ اللهم عَافِنِيْ فِيْ بَصَرِيْ لَااِلهَ الِاَّ اَنْتَ
"Ya Allah anugerahkanlah kesehatan pada badanku; Ya Allah anugerahkanlah kesehatan pada pendengaranku; Ya Allah anugerahkanlah kesehatan pada penglihatanku, tiada Ilaah yang layak untuk diibadahi kecuali Engkau".
(Hadits Hasan Riwayat Abu Daud: 4/324 dan Ahmad: 5/42)
Tampilkan postingan dengan label Artikel Al-Quran Hadits. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel Al-Quran Hadits. Tampilkan semua postingan

Sabtu, Mei 16, 2020

Hadits tentang Kegembiraan Orang yang Berpuasa

...::| Matan Hadits tentang Kegembiraan Orang yang Berpuasa |::...
gembira-berpuasa
[صحيح المسلم, رقم: 1151]

...::| Terjemah Hadits |::...
Ada dua kegembiraan bagi orang yang berpuasa:
a. Kegembiraan ketika berbuka, dan
b. Kegembiraan ketika bertemu dengan Rabb-nya.
[Shohih al-Muslim, No. Hadits 1.151]

...::| Makna & Faidah Hadits |::...

Pertama: Orang yang berpuasa Ramadhan akan bergembira ketika berbuka puasa, baik berbuka puasa setiap maghrib ataupun berbuka pada tanggal 1 Syawwal. Mereka bergembira dengan segala anugerah dari Allah berupa kemampuan melaksanakan ibadah puasa, yang merupakan salah satu ibadah yang paling utama, betapa banyak orang-orang yang diharamkan oleh Allah sehingga tiada kuasa berpuasa Ramadhan. Mereka juga bergembira karena ketika waktu berbuka tiba Allah menghalalkan/membolehkan mereka untuk mengkonsumsi makanan dan minuman dan bahkan halal untuk mempergauli istrinya, di mana hal-hal tersebut diharamkan bagi mereka ketika mereka berpuasa.

Kedua: Orang yang berpuasa Ramadhan akan bergembira ketika bertemu dengan Rabb-nya, karena ketika itu mereka mendapatkan pahala dari ibadah puasanya di sisi Allah, pahala yang lengkap, sempurna, tak kurang sedikitpun. Mereka juga bergembira ketika dipanggil untuk memasuki surga melalui pintu khusus, pintu ar-Rayyan yang tidak akan memasukinya kecuali mereka yang rajin berpuasa Ramadhan setiap tahunnya.



Areefah
Areefah Haurgeulis Updated at:

Rabu, Maret 25, 2020

Faidah Hadits tentang Thoo-un

بسم الله الرحمن الرحيم، الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، أما بعد

A. Hadits Pertama
Covid-19

Dari Aisyah (ummul-Mu'miniin), semoga Allah meridhoinya, ia berkata: "Saya bertanya kepada Rasulullah  tentang Tho'un, maka Beliau menjelaskannya kepadaku bahwa ia (Tho'un) adalah adzab (siksa) dari Allah bagi siapa yang dikehendaki-Nya, dan sesungguhnya Allah menjadikannya rohmat bagi orang-orang beriman, tiada seorangpun yang terpapar Tho'un kemudian ia menetap di negrinya/kampungya dengan penuh kesabaran dan mengharap ridho Allah semata, dan ia mengetahui bahwa Tho'un tidak menimpanya kecuali atas ketentuan Allah, kecuali ia akan mendapatkan pahala seperti pahala seorang Syahied".
(HR. Bukhori, Kitab ath-Thibb, Bab Ajru Ash-Shobir fi ath-Tho'un, Nomor: 5402)

Faidah Hadits:
  • Tho'un: Jenis penyakit yang mewabah, menyebar dan menular dengan cepat atas ijin Allah.
  • Tho'un merupakan salah satu bentuk adzab atau siksa dari Allah bagi hambaNya. Rasulullah bersabda:
    وما انتشرت الفاحشة في قوم حتى يعلنوا بها إلا عمتهم الأوجاع والطواعين التي لم تكن في أسلافهم
    Tidaklah perbuatan keji (Fakhisyah) menyebar pada suatu kaum bahkan sampai terang-terangan, kecuali Allah akan menimpakan kepada kaum tersebut regam penyakit dan ragam tho'un yang tidak pernah terjadi pada para pendahulunya.
    (HR. Ibnu Majah, Kitab al-Fitan, Bab al-'Uquubaat, Juz-2 Hal. 1332 Nomor: 4019; Al-Baihaqi, Sya'bi al-Iman, Juz-3 Hal. 196 Nomor: 3314)
  • Tho'un merupakan salah satu Rahmat Allah bagi hamba-hambanya yang beriman, di mana Allah menghadiahkan pahala setingkat Syahid bagi mereka yang terpapar tho'un dengan syarat ia melakukan hal-hal ini:
  1. berdiam diri di rumah/kampugnya;
  2. sabar menghadapi musibah Tho'un dengan senantiasa mengharap ridho Allah; dan
  3. meyakini bahwa segala sesuatunya, termasuk ia terpapar tho'un, atas kehendak Allah.
Sumber: https://khaledalsabt.com/

Areefah
Areefah Haurgeulis Updated at:

Selasa, Juni 04, 2019

Siapa kita setelah Ramadhan (Khutbah Iedul-Fitri)


خطبة عيد الفطر
“Siapa kita setelah RAMADHAN”

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الله اكبر   الله اكبر   الله اكبر  x ٣
الله اكبر كبيرا والحمد لله كثيرا وسبحان الله بكرة واصيلا
الحمد لله العظيم جلاله, الكثير نواله, المبسوط في الوجود كرمه وافضاله
نحمده ونستعينه ونستغفره ونتوب اليه, ونعوذ بالله من شرور انفسنا وسيئات اعمالنا, من يهده الله فلا مضل له ومن يضلله فلا هادي له.
اشهد ان لا اله الا الله وحده, صدق وعده, ونصؤ عبده, واعز جنده, وهزم الأحزاب وحده.واشهد ان محمدا عبده ورسوله, ارسله شاهدا ومبشرا ونذيرا, وداعيا الى الله باذنه سراجامنيرا.
اللهم صل وسلم وبارك على عبدك ونبيك ورسولك محمد ابن عبدالله وعلى ازواجه وذريته كما صليت وسلمت وباركت على ابرهيم وال ابراهيم في العالمين انك حميد مجيد. امـــــا بعد !
فيا عبادالله..! اوصيكم واياي نفسى بتقوى الله, فقد فاز المتقون !
فقال تبارك جلا وعلى سبحانه, اعوذ بالله السميع العليم من الشيطان الرجيم:
يا ايها الذين امنوا اتقوا الله حق تقاته ولا تموتن الا وانتم مسلمون
وقال رسول الله صلى الله عليه واله وسلم: اتق الله حيثما كنت واتبع السيئة الحسنة تمحها وخالق الناس بخلق حسن       (رواه الترمذى)
الحمدلله !
Puja dan puji hanyalah untuk Allah;
Puja dan puji yang sesuai dengan kebesaran-Nya;
Puja dan puji yang sesuai dengan keagungan-Nya;
Puja dan puji yang sesuai dengan kesucian-Nya.<
ربنا لك الحمد كما ينبغى لجلال وجهك الكريم وعظيم سلطانك

الحمدلله ! - Sebanyak bilangan makhluk-Nya;
الحمدلله ! - Seimbang dengan kebesaran ‘Arsy-Nya;
الحمدلله ! - Sepenuh batas keridloan-Nya;
الحمدلله ! - Sepenuh tinta kalimat-Nya;
الحمدلله عددخله وزنة عرشه ورضانفسه ومداد كلماته

الله اكبر !
Maha Besar Allah;
Kebesaran-Nya tampak pada pengaturan makhluk-Nya;
Kebesaran-Nya terlihat pada curahan nikmat-Nya;
Kebesaran-Nya nyata pada pemberian nikmat-Nya;

سبحان الله !
Maha Suci Allah dari semua bentuk kekurangan;
Maha Suci Allah dari semua bentuk ketidaksempurnaan;
Maha Suci Dia dari semua bentuk syirik dan kemusyrikan.

لااله الا الله !
Tidak ada sesembahan yang sebenarnya, melainkan Allah;
Tidak ada ajaran yang wajib dipegang teguh, kecuali ajaran-Nya;
Tidak ada perintah yang wajib dijunjung tinggi, kecuali hanya perintah-Nya; dan
Tidak ada kalimat yg layak diperjuangkan, kecuali hanya kalimat-Nya.

Perjuangan yang sejati adalah perjuangan mencari keridhoan-Nya;
Jihad yang haqiqi adalah jihad menegakkan kalimat-Nya;
Jihad yang haqiqi adalah jihad memperjuangkan ajaran-Nya; dan
Jihad yang haqiqi adalah jihad mencari keridoan-Nya.

لاحول ولا قوة الا بالله !
Tidak ada daya dan.upaya, kecuali dengan pertolongan Allah;
Tidak akan ada keberhasilan, kecuali dengan pertolongan-Nya;
Tidak bakal ada kemenangan, kecuali dengan bantuan-Nya; dan
Tidak boleh ada kepastian, kecuali setelah izin-Nya.

الله اكبر ولله الحمد !
معاشر المسلمين اسعدكم الله في الدارين
Seiring dengan terbenamnya matahari akhir Ramadhan di ufuk barat, seiring itu pula selesailah puasa Ramadhan yang kita jalani; Dan seiring dengan terbitnya fajar 1 syawwal, terbit pula fajar kegembiraan di lubuk hati kita;
Kita gembira, karena ibadah puasa telah kita laksanakan;
Kita juga gembira, karena latihan mental yang berat telah kita hadapi; Benarlah apa yang disabdakan oleh Nabi Saw:

للصائم فرحتان فرحة عند فطره وفرحة عند لقاء ربه (رواه المسلم)
Bagi orang yang berpuasa ada dua kegembiraan:  Kegembiraan ketika dia berbuka, baik dia berbuka di saat Maghrib, atau pun dia berbuka pada tanggal 1 Syawwal seperti saat ini; dan kegembiraan di saat dia bertemu dengan Rabb-nya.


Namun Ma’asyiral Muslimin…!
Di balik kegembiraan itu terselip pula keprihatinan di hati,
karena banyak kekurangan pada puasa kita;
Kita prihatin, sedih; karena puasa belum bersih.
Puasa kita belum bersih; belum bersih dari noda, belum bersih dari dosa, belum bersih dari maksiat.

Kita tidak terbiasa berbuka dengan daging yang kita masak setiap hari, tapi kita bisa dan terbiasa makan daging saudara kita sendiri, kita bisa dan biasa ber-GHIBAH, kita kotori omongan-omongan kita dengan bermaksiat kepada Allah dengan melakukan GHIBAH, padahal kita tengah berpuasa.

Walaupun demikian, dengan segala kekurangan yang ada pada diri kita, kita mengharap kepada Allah Yang Maha Rahmaan dan Maha Rahiim, berkenan kiranya Dia untuk dapat menerima shalat dan puasa kita, dan berkenan pula Dia memaafkan kekurangan-kekurangan kita, dan kita juga bermohon, semoga Allah SWT masih berkenan mempertemukan kita pada tahun-tahun yang akan datang dalam suasana seperti saat ini.

Dan juga kita tidak lupa, untuk saudara-saudara kita yang pada saat ini dia atau mereka tak lagi berkumpul bersama kita, karena telah berpulang ke RAHMATULLAH; Kita doakan, semoga rahmat Allah SWT tetap berlimpah atas mereka, semoga Allah mengampuni dosa-dosa mereka, dan semoga lah kita dapat menyusul mereka dengan KHUSNUL KHOOTHIMAH.

معاشر المسلمين اسعدكم الله في الدارين
الله اكبر ولله الحمد !
RAMADAN TELAH BERLALU, BULAN TARBIYAH YANG BANYAK MEMBARIKAN PELAJARAN DAN PENDIDIKAN TELAH PERGI MENINGGALKAN KITA, BULAN YANG BERLIMPAH DENGAN KARUNIA, PAHALA, DAN MAGHFIRAH BARU SAJA MENYAMPAIKAN SALAM PERPISAHAN KEPADA KITA…
وَدَاعًــــــــــــــا اَيُّهَا اْلمُؤمِنِـــــــين
وَدَاعًــــــــــــــا اَيُّهَا اْلصَّائِمِيْنَ
SELAMAT TINGGAL WAHAI ORANG-ORANG YANG BERIMAN
SELAMAT TINGGAL WAHAI ORANG-ORANG YANG BERPUASA

MA’ASYIRAL MUSLIMIN, BENAR RAMADHAN TELAH BERLALU DAN SEKARANG TINGGAL BAGIAN KITA UNTUK MEMENUHI HARAPAN ALLAH SWT, MEMBUKTIKAN DIRI DI HADAPAN-NYA, DI TENGAH-TENGAH RIMBA SEMESTA, BAHWA KITA AKAN SENANTIASA DAN BENAR-BENAR MENJADI HAMBA-HAMBA YANG BERTAQWA
MAKA
 فماذا بعد رمضان....؟
فما نحن بعد رمضان....؟
APA DAN BAGAIMANA KITA SETELAH RAMADHAN?
SIAPA SEJATINYA KITA SETELAH RAMADHAN?
APAKAH TETAP BEGINI-BEGINI SAJA, SAMA SEPERTI TAHUN-TAHUN SEBELUMNYA ATAU BAGAIMANA?

كلا معاشر المسلمين و المسلمات
كلا معاشر المؤمنين و المؤمنات
TIDAK, SAMA SEKALI TIDAK DEMIKIAN MA’ASYIRAL MUSLIMIN!
KE DEPAN …. DIMULAI DARI SINI, DARI TEMPAT YANG MULIA INI, KITA MULAI DARI SAAT INI, DI HARI YANG BAIK INI,
KITA AZAMKAN DIRI UTK MEMPERBAIKI KUALITAS DIRI DALAM SEGALA DIMENSI.

LATIHAN MENTAL SELAMA RAMADHAN TAHUN INI HARUS BENAR-BENAR MAMPU MEMBERIKAN BEKAS YANG NYATA PADA DIRI KITA
DENGAN MEWUJUDKAN DIRI SEBAGAI HAMBA ALLAH JALLA WA ‘ALAA YANG BERTQWA.

اللهم نحن المتقون
اللهم فاشهد ونحن المتقون

الذاريات (51)  : 15 - 23
ان المتقين في جنت وعيون - أخذين ما أتىهم ربهم إنهم كانوا قبل ذلك محسنين
كانوا قليلا من الليل ما يهجعون - وبالاسحار هم يستغفرون
وفي أموالهم حق معلوم - للسائل والمحروم
وفي الارض أيت للموقنين - وفي أنفسكم أفلا تبصرون
وفي السماء رزقكم وما توعدون
فو رب السماء والارض انه لحق مثل ما انكم تنطقون
  
SESUNGGUHNYA ORANG-ORANG YANG BERTAQWA ITU BERADA DALAM TAMAN-TAMAN (SYURGA) DAN MATA AIR-MATA AIR,

SAMBIL MENERIMA SEGALA PEMBERIAN RABB MEREKA. SESUNGGUHNYA MEREKA SEBELUM ITU DI DUNIA ADALAH ORANG-ORANG YANG BERBUAT KEBAIKAN.

DI DUNIA MEREKA SEDIKIT SEKALI TIDUR DIWAKTU MALAM.
DAN SELALU MEMOHONKAN AMPUNAN DIWAKTU PAGI SEBELUM FAJAR.

DAN PADA HARTA-HARTA MEREKA ADA HAK UNTUK ORANG MISKIN YANG MEMINTA DAN ORANG MISKIN YANG TIDAK KUASA UTK MEMINTA-MINTA
DAN DI BUMI ITU TERDAPAT TANDA-TANDA (KEKUASAAN ALLAH) BAGI ORANG-ORANG YANG YAKIN.

DAN (JUGA) PADA DIRIMU SENDIRI. MAKA APAKAH KAMU TIDAK MEMPERHATIKAN?

DAN DI LANGIT TERDAPAT (SEBAB-SEBAB) REZKIMU [HUJAN YANG DAPAT MENYUBURKAN TANAMAN] DAN TERDAPAT (PULA) APA YANG DIJANJIKAN KEPADAMU [TAKDIR ALLAH TERHADAP TIAP-TIAP MANUSIA YANG TELAH DITULIS DI LAUHUL MAHFUDZ.].

MAKA DEMI TUHAN LANGIT DAN BUMI, SESUNGGUHNYA YANG DIJANJIKAN ITU ADALAH BENAR-BENAR (AKAN TERJADI) SEPERTI PERKATAAN YANG KAMU UCAPKAN.

Ma’asyiral-Muslimin wal-Muslimat sebagai penutup khutbah ini, mari kita renungkan sindiran Allah terhadap kita dalam surat al-‘Aadiyaat:
surat Al-Aadiyat
  
1. demi kuda perang yang berlari kencang dengan terengah-engah,
2. dan kuda yang mencetuskan api dengan pukulan (kuku kakinya),
3. dan kuda yang menyerang dengan tiba-tiba di waktu pagi,
4. Maka ia menerbangkan debu,
5. dan menyerbu ke tengah-tengah kumpulan musuh,
6. Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar, tidak berterima kasih kepada Tuhannya,
7. dan Sesungguhnya manusia itu menyaksikan (sendiri) keingkarannya,
8. dan Sesungguhnya Dia sangat bakhil karena cintanya kepada harta [Sebagian ahli tafsir menerangkan bahwa maksud ayat ini Ialah: manusia itu sangat kuat cintanya kepada harta sehingga ia menjadi bakhil.].
9. Maka Apakah Dia tidak mengetahui apabila dibangkitkan apa yang ada di dalam kubur,
10. dan dilahirkan apa yang ada di dalam dada,
11. Sesungguhnya Tuhan mereka pada hari itu Maha mengetahui Keadaan mereka.


Allah membuka surat al-‘Aadiyat dengan bersumpah atas nama salah satu makhluk-Nya, KUDA.
Diantara hikmah dan Faidah ketika Allah memulai ayat-ayat-Nya dengan sumpah adalah bahwa ada sesuatu pesan yang agung pada ayat-ayat atau surat tersebut.

Obyek surat al-‘Aadiyaat : KUDA & MANUSIA
Kuda => ayat 1 – 5
Manusia => ayat 6 – 8

Mari kita lihat apa pesan Allah dalam surat al-‘Aadiyaat?
Mari kita lihat sindiran Allah melalui surat al-‘Aadiyaat?

Yang pasti pesan dan sindiran-Nya tersebut bukan utk makhluk-Nya dari jenis KUDA, tapi untuk kita, manusia, yang secara pisik maupun psikis jauh lebih sempurna dari KUDA.

Ma’asyiral-Muslimin
Pada surat al-‘Aadiyat ayat 1 – 5, Ketika Allah berbicara tentang KUDA, Allah mengangkat derajatnya, Allah memuji-mujimya, dengan menyebutkan sifat-sifat utama yang ada pada diri kuda:
KUDA yang TANGKAS dan GESIT larinya;
KUDA yang PERKASA yang berani meyabung nyawa di tengah kecamuk medan laga, tak peduli waktu walau pagi-pagi buta ia senantiasa menerjang dengan segala daya walau nyawa taruhannya.


Sebaliknya ketika Allah membicarakan makhuk-Nya yang paling mulia, manusia, kita semua, ya kita semua, Allah merendahkannya, Allah menghinakan kita pada ayat ke-6 s.d. ayat ke-8 surat al-‘Aadiyaat:

Allah sampaikan bahwa kita adalah Makhluk-Nya yang INGKAR kepada sang PENCIPTA;
ان الإنسان لربه لكنود
Allah juga sampaikan bahwa kita adalah makhluk-Nya yang INGKAR kepada-Nya dalam segala kesadaran kita, kita memahaminya, kita menyadarinya, dan kita menyaksikan dengan peduh kesadaran diri akan keingkaran-keingkaran yang selalu dan melulu kita tampakkan pada Allah Jalla wa ‘Alaa.

وانه على ذلك لشهيد
  
Dan yang terakhir Allah merendahkan kita sebagai makhluk BAKHIIIL lagi KIKIR, yang cintanya terhadap dunia melebihi cintanya kepada Sang Pencipta dunia.

وانه لحب الخير لشديد  
Ma’asyiral Muslimin
Kuda dan kita (manusia) sama-sama memiliki TUAN;
KITA (MANUSIA) adalah TUAN bagi kuda
Dan Allah adalah TUAN bagi kita, manusia

Kalaulah kuda mampu patuh dan taat pada TUANnya, mau dan sudi lari kearah mana saja sesuai kendali TUANnya, tak peduli dingin yang menusuk tulang, tak peduli terik matahari yang membakar rahang, ia akan TUNDUK dan PATUH, gelap maupun terang.
Mengapa kita tidak mampu untuk LEBIH TUNDUK dan PATUH kepada TUAN kita ALLAH JALLA WA ‘ALAA.

Mengapalah kita tidak mampu untuk LEBIH MENGUTAMAKAN CINTA KITA KEPADA ALLAH dari pada cinta kita kepada dunia.

Ma’asyiral-Muslimin, demikian sindiran Allah untuk kita dalam al-‘Aadiyat.

Mari sekali lagi kita buktikan bahwa kita adalah Makhluk-Nya yang JAUH LEBIH SEMPURNA DARI KUDA,
Mari kita buktikan bahwa kita adalah makhluk-Nya yang JAUH LEBIH PATUH DAN TUNDUK KEPADA KEHENDAK TUANNYA, dengan benar-benar menjadi HAMBA-HAMBA-NYA yang BERTAQWA yang aktivitasnya sebagaimana pernah kita praktikan selama RAMADHAN. Siangnya beraktivitas duniawi dengan berpuasa dan malamnya beribadah dan bermunajat tiada henti.
اللهم فاشهد ونحن المتقون


معاشر المسلمين !
Akhirnya, pada kesempatan yang sangat baik ini,
marilah kita bermunajat kepada Allah SWT.
Kita mohon ke Dia, kepada Dia, sebab Dial ah Rabb yang senantiasa mendengarkan pengaduan kita,
Dia lah satu-satunya Rabb yang sudi mendengarkan keluhan-keluhan kita, dan
Dial ah Rabb satu-satunya yang mau mendengarkan keluh-kesah kita.
اللهم ربنا لك الحمد, كما ينبغي لجلال وجهك وعظيم سلطانك
فصل وسلم وبارك على عبدك ونبيك ورسولك محمد
وعلى ازواجه و ذريته
كما صليت وسلمت وباركت على ابراهيم في العالمين انك حميد مجيد
اللهم اغفر للمسلمين والمسلمات والمؤمنين والمؤمنات الأحياء منهم والأمات, انك سميع قريب مجيب الدعوات
اللهم فارج الهمّ وكاشف الغمّ, مجيب دعوة المضطرّين رحمن الدينا والاخرة ورحيمنا, ارحمنارحمة تغنينا بها عن رحمة من سواك

اللهم يا ربنا !
Engkau lah Dzat Yang melenyapkan kesedihan;
Engkau lah satu-satunya harapan kami untuk menghilangkan kedukaan;
Engkaulah satu-satunya Dzat Yang mengabulkan doa orang yang dalam kesulitan;
Engkaulah Dzat Yang Maha Rahman dan Rahiim di dunia dan akhirat;
Berilah kami rahmat, yang dengan rahmat-Mu ini kami tidak lagi memerlukan rahmat yang lain.

ربنا ظلمنا انفسمنا وان لم تغفرلنا وترحمنا لنكونن من الخسرين
(الاعراف, 7: 23)

اللهم يا ربنا !
Kami mengakui dengan sejujurnya, bahwa kami banyak berbuat dholim, banyak ucapan-ucapan kami menyimpang dari ajaran-Mu, ucapan-ucapan yang membawa kepada dosa banyak kali kami dendangkan, ucapan-ucapan keji banyak kami lantunkan,
walaupun kami dalam keadaan melaksanaan ibadah shaum.

اللهم يا ربنا !
Banyak perbuatan kami yang menyalahi petunjuk-Mu;

Banyak tingkah laku kami keluar dari pimpinan-Mu; Maafkan kesalahan kami dan ampunilah dosa-dosa kami.
اللهم نرجــــو عظيم عفوك الذي عفوت به عن الخاطــــــــــــــــــــــئين,
اوضـــع علينا بالعفو والمغفرة, يا من عفوه عظــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــيم

اللهم يا ربنا !
Maafkan semua kesalahan-kesalahan kami;
Maafkan semua kekurangan-kekurangan kami;
Maafkan semua kekeliruan-kekeliruan kami;

اللهم انك امرتنا ان نتصدق على فقرائنا, ونحن فقرائك, وانت احق بالتصدق علينا, فتصدق علينا !

اللهم يا ربنا !
Engkau memerintahkan kami untuk bersedekah;
Engkau perintahkan kami untuk bersedekah kepada fakir miskin di antara kami;
يا ربنا !
Kami semua adalah miskin di hadapan-Mu;
Kami adalah orang-orang miskin, fakir di hadapan-Mu;
Dan kini kami, di hadapan pintu-Mu,
Kami mohon kepada-Mu, Ya Allah!
Berilah kami sedekah;
Berilah kami sedekah dari rahmat-Mu;
Berilah kami sedekah dari ampunan-Mu;
Berilah kami sedekah kasih-sayang-Mu;
Berilah kami sedekah dari petunjuk-Mu;
Supaya kami dapat menyelesaikan persoalan di antara kami;
Supaya kami dapat menyelesaikan semua fitnah yg berlaku di antara kami.

اللهم اصلح ذات بيننا والّف بين قلوبنا, انك على ما تشاء قدير
اللهم يا ربنا !
Perbaikilah urusan di antara kami;
Pertemukanlah hati di antara kami 3x;
Terimalah permohonan kami yang satu ini;
Pertemukanlah hati di antara kami;

Dekatkanlah hati kami yang jauh, dekatkan hati kami yang telah jauh dari bimbingan dan tuntunan-Mu;
Hubungkan hati kami yang telah putus, hubungkanlah hati kami yang telah putus dari ajaran dan sunnah Rasul-Mu.
Sungguh Ya Allah….! Engkau lah Yang Maha Tahu dan Engkau lah Yang Bisa menyambungkan hati kami yang telah putus.

اللهم لا تدع لنا ذنبا الا غفرته,
ولا عيبا الا سترته, ولا همّا الا فرّجته
ولا دينا الا قضيته, ولا ضالاّ الا رددته, ولا كسرا الا جبرته, ولا فسادا الا اصلحته, ولا بلاء الا كشفته, ولا بلاء الا كشفته, ولا بلاء الا كشفته.

اللهم اصلح لنا ديننا الذي هو عصمة امرنا واصلح لنا دنيانا التي فيها معاشنا, واصلح لنا أخرتنا التي اليها معاذنا,واجعل الحياة زيادة لنا في كل خير  واجعل الموت راحة لنا من كل شر

اللهمِّ احْفَظْ  اندونيسيا وَبُلْدَانَ المسلمين مِنْ شَرِّ اْلاَشْرَارِ وَكَيْدِ اْلفُجَّار وَرُدّ سِهَامَ اْلمُـــتَأَمِرِيْنَ عَلَيْهَا اِلىَ نُحُوْرِهِمْ وَاَشْغِلْهُم بِاَنْفُسِهِم وَقِنَا شَرَّهُم بِمَا شِئْتَ وَكَيْفَ شِئْتَ
اللهم يا الرحمن اللهم يا الرحيم لا تسلط علينا من لا يرحمنا
اللهم يا الرحمن اللهم يا الرحيم لا تسلط علينا بذنوبنا من لا يخافك ولا برحمنا
YA ALLAH JAGALAH INDONESIA DAN SEGENAP NEGERI KAUM MUSLIMIN, DARI KEJAHATAN PIHAK2 YANG JAHAT DAN TIDAK BERTANGGUNG JAWAB,
JAGA NEGERI2 KAMI DARI KONSPIRASI BUSUK PARA PENDOSA, KEMBALIKAN MAKAR MEREKA AGAR MENIMPA KEPADA DIRI MEREKA SENDIRI, SIBUKKAN MEREKA, PIHAK DENGAN URUSAN MEREKA DAN KEZALIMAN DI ANTARA MEREKA DAN JAUHKANLAH/SELAMATKANLAH KAMI DARI RONGRONGAN KEJAHATAN MEREKAD

Ya Allah dzat yang Maha Rahman dan Rahim Jangan Engkau Kuasakan atas kami pemimpin-pemimpin yang tidak menyayangi kami;
Ya Allah Yang Maha Rahman dan Rahim, Jangan karena dosa-dosa kami Engkau kuasakan atas kami pemimpin-pemimpin yang tidak takut kepada-Mu dan tidak sayang kepada kami.

اللهم مجيب السائلين, اللهم خير المسؤولين
اللهم هذا الدعاء ومنك الاجابة, وهذا الجهد وعليك التكلان
اللهم هذا الدعاء ومنك الاجابة, وهذا الجهد وعليك التكلان
وصل الله على محمد واله اجمعين وسبحان ربك رب العزة عما يصفون وسلام على المرسلين والحمدلله رب العالمين

----------------------------------

معاشر المسلمين !
تقبل الله منا ومنكم صالح الاعمال كل عام وانتم بخير
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته
----------------------------------


Disampaikan oleh: Yahya Asnawi
(Alumni Mahad Al-Irsyad Al-Islamiy Bondowoso Jawa Timur)
di Masjid At-Taqwa Desa Sumbermulya Kecamatan Haurgeulis Kabupaten Indramayu Provinsi Jawa Barat
1 Syawwal 1440 H / 5 Juni 2019 M

Selengkapnya silahkan lihat di YOUTUBE

Areefah
Areefah Haurgeulis Updated at:

Jumat, November 18, 2016

Memahami wali al-Maidah-51

Ikhwati..., Agar lebih mudah dalam memahami maksud dari kata wali dalam al-Maidah ayat 51-57 perhatikan penggunaan kata "wali" dlm dua hal berikut:

1. Wali nikah
Orang yang paling berhak dan bertanggungjawab atas pernikahan seseorang.

2. Wali murid
Orang yang paling berhak dan bertanggungjawab atas urusan pendidikan seseorang.

ٍٍSelanjutnya fikirkan, renungkan dan hubungkan untuk memahami kata "wali" ( ولي ) yg merupakan bentuk tunggal (mufrad) dari kata "auliya'" ( اولياء ) pada surat al-Maidah ayat 51-57.

Ingatlah bhw kata "Wali" dlm ayat2 tsb di atas maknanya luar biasa, yakni "org yg paling berhak dan bertanggung jawab atas urusan dan kehidupan kita dalam bermasyarakat/ bernegara/berbangsa"--> ولي الأمر

Sehingga:
1. di akhir ayat 51 (surat al-Maidah) Allah menggolongkan org2 yg menjadikan Yahudi & Nasoro sebagai wali-wali mrk sbg org yg Zholim dan Allah tdk akan memberi mrk hidayah..

2. di awal ayat 52 (surat al-Maidah) Allah menyebut mereka yg condong/cenderung mendekati (membela) Yahudi & Nasoro sebagai wali-wali mrk dr pada kaum muslimin, sebagai org2 yg hatinya SAKIT.

3. di akhir ayat 53 (surat al-Maidah) Allah akan menghapus pahla dr amal baik bagi yg condong/cenderung mendekati (membela) Yahudi & Nasoro sebagai wali-wali mrk dr pada kaum muslimin, dan menggolongkan mereka sebagai orang2 yang MERUGI.
والله اعلم بالصواب

Areefah
Areefah Haurgeulis Updated at:

Selasa, November 01, 2016

HASAD (IRI - DENGKI)

Segala puji hanya milik Allah, Rabb semesta raya. Shalawat dan salam semoga senantiasa Allah limpahkan kepada Nabi dan Rasul-Nya MuhammadJ.

Allah telah menjadikan cinta (persaudaraan) yang ikhlash (tulus hanya karena Allah) di antara kaum muslimin sebagai sebuah ikatan cinta (persaudaraan) yang paling kokoh dari bentuk ikatan-ikatan lainnya, dan Allah akan melindungi model ikatan cinta (persaudaraan) semacam ini di bawah naungan Asry-Nya. Islam pun mengokohkan/menguatkan hal ini dengan mewajibkan kepada setiap muslim untuk menjaga harta, kehormatan, dan jiwa saudararanya (sesama muslim) dengan semestinya, sehingga dapat terhindar dari marabahaya ataupun hal-hal yang buruk lainnya.

Namun demikian, terkadang dapat pula terlahir, pada diri seseorang yang jiwanya sedang sakit, rasa iri atau dengki ( الحسد ) ketika saudaranya memperoleh anugerah kenikmatan (kebaikan), maka kemudian ia mempergunjingkannya, mengolok-oloknya dengan kejelekan, atau bahkan berupaya membenturkannya dengan saudaranya yang lain, mengadu-domba keduanya, dengan maksud agar anugerah nikmat/kebaikan tersebut sirna dari tangan saudaranya yang ia iri/dengki kepadanya. Hal semacam ini (timbulnya iri/dengki) pasti dan selalu ada di tengah-tengah kita, di antara suadara-saudara kita.

Oleh karena itu, seharusnya lah kita menjaga diri kita, keluarga kita, dan masyarakat kita agar jangan sampai terjangkit penyakit jiwa semacam ini.

A. PENGERTIAN HASAD ( الحسد )

Istilah HASAD (Arab) atau IRI/DENGKI (Indonesia) berarti:

  • Perasaan tidak suka ketika saudaranya mendapat anugerah kenikmatan dari Allah SWT (dalam definisi ini, maka seseorang akan mengalami keresahan/tidak tenang/risau/gundah ketika saudaranya memperoleh anugerah kenikmatan.
  • Perasaan ingin menghilangkan anugerah kenikmatan dari tangan saudaranya yang telah Allah berikan kepadanya (dalam definisi ini, maka seseorang akan berupaya dengan segala cara untuk menghilangkan anugerah kenikmatan dari saudaranya, atau minimal ia akan bersuka-ria ketika nikmat tersebut hilang dari tangan saudanya, meskipun ia tidak berperan dalam upaya tersebut.
HASAD ( الحسد ) kebalikan dari GHIBTHOH ( ألغبطة ), Ghibthoh berarti:
  • Perasaan suka/senang ketika saudaranya mendapat anugerah kenikmatan dari Allah SWT.
  • Perasaan ingin memperoleh anugerah kenikmatan seperti atau melebihi dari apa yang telah diberikan oleh Allah kepada saudaranya, tanpa dibarengi perasan ingin agar kenikmatan tersebut sirna dari tangan saudaranya.
B. HUKUM HASAD ( الحسد )
    Hasad hukumnya haram, diharamkan bagi seorang muslim untuk hasad (iri/dengki) terhadap saudaranya.
    RasulullahJbersabda:

    عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : لاَ تَحَاسَدُوا وَلاَ تَنَاجَشُوا وَلاَ تَبَاغَضُوا وَلاَ تَدَابَرُوا وَلاَ يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ وَكُوْنُوا عِبَادَ اللهِ إِخْوَاناً . الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لاَ يَظْلِمُهُ وَلاَ يَخْذُلُهُ وَلاَ يَكْذِبُهُ وَلاَ يَحْقِرُهُ . التَّقْوَى هَهُنَا –وَيُشِيْرُ إِلَى صَدْرِهِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ – بِحَسَبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ، كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ دَمُهُ وَمَالُهُ وَعِرْضُهُ
    [رواه مسلم]
    Dari Abu Hurairah radhiallahuanhu dia berkata : RasulullahJbersabda :
    Janganlah kalian saling dengki, saling menipu, saling marah dan saling memutuskan hubungan. Dan janganlah kalian menjual sesuatu yang telah dijual kepada orang lain. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lainnya, (dia) tidak menzaliminya dan mengabaikannya, tidak mendustakannya dan tidak menghinanya. Taqwa itu disini (seraya menunjuk dadanya sebanyak tiga kali). Cukuplah seorang muslim dikatakan buruk jika dia menghina saudaranya yang muslim. Setiap muslim atas muslim yang lain; haram darahnya, hartanya, dan kehormatannya. 
    (Riwayat Muslim)

    RasulullahJjuga bersabda:


    وعن أنس رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم: (إياكم والحسد فإن الحسد يأكُل الحسنات كما تأكل النار الحطب).
    Dari Anas radhiallahuanhu dia berkata : RasulullahJbersabda : "Jauhilah oleh kalian sifat hasad, karena sesunggugnya (dosa) sifat hasad akan memakan (menghilangkan pahala) kebaikan, sebagaimana api memakan kayu bakar".
    (Riwayat Ibnu Majah, Abu Daud juga meriwayatkan hadits ini dari Abu Hurairah ra)



    Adapun GHIBTHOH, dibolehkan dan merupakan hal yang baik bagi seorang muslim untuk memiliki sifat ghibthoh, ia merupakan bentuk motivasi bagi dirinya dengan menyandarkan kebaikan pada diri saudaranya sebagai model kebaikan untuk dirinya. 

    C. SEBAB-SEBAB TIMBULNYA SIFAT HASAD ( الحسد )
    Di antara hal-hal yang dapat menimbulkan sifat HASAD pada diri seseorang adalah sbb:
    1. Adanya rasa permusuhan dan kebencian dalam diri seseorang kepada saudaranya;
    2. Adanya sifat angkuh dan sombong dalam diri seseorang yang ia tidak suka bila saudaranya dapat mengunggulinya dalam sesuatu hal;
    3. Sifat ingin selalu menjadi orang yang ditokohkan/dituakan, diiringi sifat yang ingin dipuja dan dipuji dengan segala bentuk penghormatan dari sesamanya atas kehormatan yang melekat pada dirinya;
    4. Sifat mencintai dunia/harta kekayaan yang berlebihan;
    5. dan lain-lainyya.
    D. BAHAYA SIFAT HASAD ( الحسد )

    Hasad memiliki banyak bahaya di antaranya:
    1. Tidak menyukai apa yang Allah takdirkan. Merasa tidak suka dengan nikmat yang telah Allah berikan kepada orang lain pada hakikatnya adalah tidak suka dengan apa yang telah Allah takdirkan dan menentang takdir Allah.
    2. Hasad itu akan melahap kebaikan seseorang sebagaimana api melahap kayu bakar yang kering karena biasanya orang yang hasad itu akan melanggar hak-hak orang yang tidak dia sukai dengan menyebutkan kejelekan-kejelekannya, berupaya agar orang lain membencinya, merendahkan martabatnya dll. Ini semua adalah dosa besar yang bisa melahap habis berbagai kebaikan yang ada.
    3. Kesengsaraan yang ada di dalam hati orang yang hasad. Setiap kali dia saksikan tambahan nikmat yang didapatkan oleh orang lain maka dadanya terasa sesak dan bersusah hati. Akan selalu dia awasi orang yang tidak dia sukai dan setiap kali Allah memberi limpahan nikmat kepada orang lain maka dia berduka dan susah hati.
    4. Memiliki sifat hasad adalah menyerupai karakter orang-orang Yahudi. Karena siapa saja yang memiliki ciri khas orang kafir maka dia menjadi bagian dari mereka dalam ciri khas tersebut. Nabi bersabda, “Barang siapa menyerupai sekelompok orang maka dia bagian dari mereka.” (HR Ahmad dan Abu Daud, shahih)
    5. Seberapa pun besar kadar hasad seseorang, tidak mungkin baginya untuk menghilangkan nikmat yang telah Allah karuniakan. Jika telah disadari bahwa itu adalah suatu yang mustahil mengapa masih ada hasad di dalam hati.
    6. Hasad bertolak belakang dengan iman yang sempurna. Nabi bersabda, “Kalian tidak akan beriman hingga menginginkan untuk saudaranya hal-hal yang dia inginkan untuk dirinya sendiri.” (HR Bukhari dan Muslim). Tuntutan hadits di atas adalah merasa tidak suka dengan hilangnya nikmat Allah yang ada pada saudara sesama muslim. Jika engkau tidak merasa susah dengan hilangnya nikmat Allah dari seseorang maka engkau belum menginginkan untuk saudaramu sebagaimana yang kau inginkan untuk dirimu sendiri dan ini bertolak belakang dengan iman yang sempurna.
    7. Hasad adalah penyebab meninggalkan berdoa meminta karunia Allah. Orang yang hasad selalu memikirkan nikmat yang ada pada orang lain sehingga tidak pernah berdoa meminta karunia Allah padahal Allah ta’ala berfirman: وَلا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللَّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ لِلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبُوا وَلِلنِّسَاءِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبْنَ وَاسْأَلُوا اللَّهَ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا “Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi Para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” (QS. an Nisa’: 32)
    8. Hasad penyebab sikap meremehkan nikmat yang ada. Maksudnya orang yang hasad berpandangan bahwa dirinya tidak diberi nikmat. Orang yang dia dengki-lah yang mendapatkan nikmat yang lebih besar dari pada nikmat yang Allah berikan kepadanya. Pada saat demikian orang tersebut akan meremehkan nikmat yang ada pada dirinya sehingga dia tidak mau menyukuri nikmat tersebut.
    9. Hasad adalah akhlak tercela. Orang yang hasad mengawasi nikmat yang Allah berikan kepada orang-orang di sekelilingnya dan berusaha menjauhkan orang lain dari orang yang tidak sukai tersebut dengan cara merendahkan martabatnya, meremehkan kebaikan yang telah dia lakukan dll.
    10. Ketika hasad timbul umumnya orang yang di dengki itu akan dizalimi sehingga orang yang di dengki itu punya hak di akhirat nanti untuk mengambil kebaikan orang yang dengki kepadanya. Jika kebaikannya sudah habis maka dosa orang yang di dengki akan dikurangi lalu diberikan kepada orang yang dengki. Setelah itu orang yang dengki tersebut akan dicampakkan ke dalam neraka.
    Ringkasnya, dengki adalah akhlak yang tercela, meskipun demikian sangat disayangkan hasad ini banyak ditemukan di antara para ulama dan dai serta di antara para pedagang. Orang yang punya profesi yang sama itu umumnya saling dengki. Namun sangat disayangkan di antara para ulama dan para dai itu lebih besar. Padahal sepantasnya dan seharusnya mereka adalah orang-orang yang sangat menjauhi sifat hasad dan manusia yang paling mendekati kesempurnaan dalam masalah akhlak.

    E. TERAPI UNTUK SIFAT HASAD ( الحسد )
    1. Kembali kepada Allah dengan senantiasa memperbaharui taubat kepada Allah dari dosa-dosa yang memperdaya kita;
    2. Bertawakkal kepada Allah, menyerahkan segala urusan (baik ataupun buruknya) kepada Allah setelah kita berusaha dan berdoa dengan maksimal;
    3. Berlindung kepada Allah, diiringi dengan bacaan-bacaan (aurad) yang telah disyari'atkan;
    4. Berdoa kepada Allah agar dijaga dari sifat hasad dan dijaga dari orang yang hasad (QS. Al-Falq/113: 5);
    5. Berbuat/bersikap baik dan adil terhadap orang yang hasad, tidak membalasnya dengan keburukan yang sejenis;
    6. Jangan sekali-kali membiacarakan membicarakan kenikmatan yang kita peroleh dihadapan orang-orang yang mudah terjangkit sifat hasad;
    7. dll.
    والله أعلم بالصواب

      Areefah
      Areefah Haurgeulis Updated at:

       
      back to top